11/08/12

Mohammad Hatta, Pemimpin dan Pembesar


Besok, merupakan hari lahir Mohammad Hatta, sang proklamator yang mendampingi Sukarno. Mungkin sebagian orang sudah melupakan Mohammad Hatta. Tapi bagi saya Hatta adalah seorang pemimpin yang langka.

Dia jujur, antikorupsi, hidup serba pas-pasan demi prinsip, tegas, terampil berorganisasi, memiliki intelektualisme yang tak tertandingkan, dan dia adalah pemegang paham sosialisme yang setia.

Di tengah kebangkrutan moral pemimpin di negeri ini yang ditandai banyaknya kepala daerah, anggota DPR, politisi, birokrat, terjerat kasus korupsi. Maka sosok pemimpin bermoral macam Hatta benar-benar sangat dirindukan.

Hatta adalah sosok pemimpin yang memberikan inspirasi. Hatta adalah pemimpin jujur dan iklas berkorban untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Hatta adalah pemimpin yang selalu melangkah lebih dulu dari yang dipimpinnya.

Ini tentu bertolakbelakang dengan saat ini. Kendati saat ini banyak pembesar di negeri ini, namun rakyat merasa kesepian. Jika ditarik dalam logika silogisme Aristotelian, maka “pembesar adalah pemimpin yang membuat rakyat sepi”.

Deliar Noer dalam esainya “Hatta, Moral, dan Kepemimpinan”, secara tegas mengajak politisi dan pemimpin di negeri ini untuk mengingat sikap, perbuatan, kebijakan, reputasi Mohammad Hatta yang berkaitan moralnya.

Menurut Deliar, Hatta adalah seorang pemimpin langka, yang senantiasa memperlihatkan moral tinggi dalam bergerak, baik secara pribadi maupun dalam masyarakat dan dalam politik. Ia dikenal sebagai pemimpin yang bersih dan tak pernah berupaya memperkaya diri dan keluarga. Ia juga bersih dalam menilai kekuasaan yang sebenarnya dapat ia permainkan untuk menjaga kedudukannya.

Dalam nasihatnya kepada Sukarno yang mempraktikkan Demokrasi Terpimpin– yang menyimpang dari cita-cita demokrasi kita. Hatta tak pernah melecehkan atau mengecilkan arti diri pribadi Sukarno. Sikap Hatta dalam berpolitik itu jelas berdasarkan akhlak dan moral.

Nah, di tengah kebangkrutan moral dan akhlak pemimpin saat ini. Indonesian tentu saja membutuhkan banyak sosok Hatta. (*)



Sumber:

Diliar Noer “Hatta, Moral, dan Kepemimpinan”, Tempo.
Syukur Tiada Akhir, Kompas




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar